Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Sukses Pentaskan Tujuh Drama

  • Whatsapp
Mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) baru-baru ini sukses mementaskan tujuh drama dalam sehari. Tujuh drama tersebut dipentaskan di Teater Mursal Esten FBS UNP dari pukul 09.00 hingga 18.00 WIB.

Tujuh drama yang dipentaskan itu seperti Pinangan, Malam Jahanam, Petang di Tanam, Nyonya-Nyonya, Makam Dipertuan, Ayahku Pulang, dan Orang-orang Kampung Janda. Menurut dosen pengampu mata kuliah Telaah Drama Indonesia, Drs. Andria Catri Tamsin, M.Pd., pementasan drama ini sebagai Tugas Akhir Semester bagi mahasiswa angkatan 2014.

“Setiap tahunnya selalu ada pementasan seperti ini bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Telaah Drama Indonesia,” kata Andria, Minggu (21/5) sore kemarin.

Pada saat itu, Andria juga mengatakan bahwa pementasan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya kesuksesan pementasan ini berkat keuletan serta kerjasama para anggota kelompok, aktor-aktris, mentor, senior, beserta alumni untuk menampilkan karya terbaik. Andria berharap hasil pementasan ini bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi guru-guru di sekolah nantinya.

Selain itu, kata dosen yang pernah meraih juara nasional dalam pembacaan puisi ini, dengan adanya pementasan drama ini, mahasiswa mengerti cara mengelola sebuah pertunjukkan. Hal itu karena menurut Andria guru bahasa Indonesia bukan hanya bisa mengajar di kelas, namun juga harus menguasai cara memanajemen berbagai acara di sekolah.

“Yang penting itu proses sebelum pementasan, agar mahasiswa mengerti mengelola sebuah pertunjukkan. Alumni kita banyak yang jadi mentor pertunjukan, dan tersebar dimana-mana, kita berharap nanti ada mata kuliah khusus pertunjukan,” jelasnya.

Pendapat yang sejalan juga disampaikan Zalmasri, M.Pd., dosen pengampu Telaah Drama Indonesia, bahwa pementasan tujuh drama ini dilakukan mahasiswa Kependidikan Bahasa Indonesia angkatan 2014. Zalmasri mengatakan pementasan drama dan produksi dua film ini sebagai modal bagi mahasiswa setelah lulus nantinya.

Menurut Zalmasri, lulusan bahasa dan sastra Indonesia hanya menjadi guru, karena banyak bidang lainnya yang bisa digeluti. Selain bidang jurnalis, penulis, budayawan, dan sastrawan, mahasiswa lulusan bahasa dan sastra Indonesia menurutnya juga bisa menggeluti bidang Event Organizer, prewedding, fotografer, film, dan berbagai dunia pertunjukan.

“Zaman sekarang sudah tidak zamannya terpaku menjadi guru, masih banyak bidang lainnya bisa digarap oleh lulusan kita. Pementasan ini langkah awalnya, sehingga mereka tahu arti kebersamaan, solidaritas, dan kerjasama, untuk sebuah pertunjukan yang bagus,” jelas dosen yang sudah dua tahun berturut-turut mengantar mahasiswa ke Peksiminas ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *