Suka Duka Jadi Influencer Media Sosial, Apa Saja Ya?

  • Whatsapp

Seiring perkembangan media sosial, kini muncul jenis pekerjaan baru yang disebut influencer. Menurut beberapa sumber, pengertian influencer adalah orang-orang yang memiliki follower atau audience yang cukup banyak di media sosial seperti artis, selebgram, blogger, youtuber, dan sebagainya.
Lebih dari itu, influencer tidak hanya memiliki banyak pengikut, melainkan juga memiliki pengaruh kuat terhadap followers-nya. Setiap kata yang disampaikan influencer bisa menginspirasi follower, setiap produk yang dipakai influencer juga akan diikuti audience.
Fenomena influencer dipandang sebagai peluang untuk memasarkan produk oleh para pemilik usaha atau tenaga pemasar. Maka, setelah influencer bermunculan, lalu berkembanglah cara pemasaran baru: influencer marketing yaitu cara pemasaran menggunakan influencer di media sosial seperti Instagram, YouTube, Blog, Twitter dan sebagainya.
Bagi pengiklan, cara pemasaran dengan influencer marketing relatif lebih murah dibandingkan promosi di televisi. Sementara bagi influencer, mendapat keuntungan berupa mencoba produk dan mendapat bayaran cukup besar.
Sekilas kita memandang pekerjaan influencer menarik dan menguntungkan. Tetapi, ternyata seorang influencer juga pernah mengalami kesedihan saat menjalani pekerjaannya. Berikut suka duka menjadi influencer media sosial yang dirangkum dari berbagai sumber.

Bekerja di Bidang yang Disukai
Beauty Influencer Tasya Farasya mengatakan pada Popbela.com bahwa salah satu keuntungan menjadi influencer adalah melakukan pekerjaan sesuai hobi atau di bidang yang disukai. Bayangkan saja, seseorang yang suka berdandan, bisa mencoba berbagai produk kosmetika yang bagus, dan punya akses mengetahui tren make up terkini.
Di luar kepuasan batin, ia juga mendapatkan keuntungan materil. Jika menyukai pekerjaan, tentu kita akan merasa senang setiap saat. Bahkan, kita rela melakoni pekerjaan tersebut di luar “jam kerja”. Dengan melakukan pekerjaan yang disenangi, maka kita akan lebih produktif.

Bisa Mengasah Kreativitas
Sejak awal, influencer sendiri adalah brand. Influencer harus menciptakan persona yang unik dan konten menarik agar bisa dilirik pemirsa media sosial. Untuk mendapat banyak pengikut, maka seseorang yang ingin menjadi influencer tentu harus berpikir kreatif sehingga menciptakan sesuatu yang baru. Pada akhirnya, kita akan merasa puas dengan karya yang dihasilkan.
Cara mengasah kreativitas bisa dimulai dengan menonton konten dari influencer lain untuk memperkaya referensi. Bahkan, kalau perlu influencer juga bisa belajar cara pengambilan gambar yang baik, kemampuan bercerita, sampai video editing.
Dengan kemampuan yang lengkap influencer bisa menciptakan konten kreatif yang memiliki nilai tambah dibandingkan pengguna media sosial yang lain. Sebagai bonus, kemampuan tersebut juga berguna di tempat kerja di luar dunia media sosial.

Kerja Tak Kenal Waktu
Seorang influencer harus konsisten mengunggah konten di media sosial. Materi untuk konten tersebut bisa dibuat kapan saja, di mana saja. Terkadang, konten dibuat pada akhir pekan atau di sela liburan. Selain itu, influencer juga mesti melayani klien di waktu-waktu yang tak terduga.
Untuk itu, influencer harus pandai mengelola waktu agar tak terasa kerja setiap saat. Seorang influencer bisa membuat aturan dan jarak waktu mengunggah konten, sehingga bisa memperkirakan jadwal jam kerja untuk diri sendiri.
Selain itu, influencer juga mesti meluangkan waktu untuk menikmati hari libur tanpa diganggu dan disiplin pada jadwal yang telah ditetapkan tersebut. Pengelolaan waktu ini demi keseimbangan kehidupan dan pekerjaan yang sehat.

Mengikuti Keinginan Pasar
Seorang pemilik akun media sosial yang aktif mulanya menyenangi dunia maya untuk mengekspresikan diri. Ia membangun citra dan membuat konten di media sosial sesuai kepribadian dan kesukaannya –dan ternyata disukai banyak orang-.
Tetapi, ketika sudah memiliki banyak pengikut dan harus mengiklankan produk, influencer tidak bisa berekspresi sesuai kemauan sendiri sepenuhnya. Seorang influencer berkebangsaan Korea Selatan, Han Yoo Ra mengatakan pada Idntimes.com bahwa salah satu tantangan influencer adalah mengikuti keinginan orang lain tapi tetap menjadi diri sendiri pada saat yang bersamaan. Seorang influencer harus menekan ego sehingga hanya memunculkan 70 persen identitas diri, dan 30 persen sisanya mengikuti kemauan pasar.

Siap Dibenci
Meski memiliki banyak pengikut, namun seorang influencer tetap tidak bisa memuaskan semua orang. Terkadang, profil diri dan kontenyang diunggah influencer tidak disukai penonton, dan bahkan dianggap mengganggu kelompok tertentu.
Hal tersebut pasti mengundang komentar negatif dari warga net. Dan, sebagian orang masih belum bijak dalam menggunakan media sosial sehingga bisa saja menghina dan menggunakan kata kasar saat menyampaikan pendapat.
Seorang influencer harus punya mental yang kuat untuk menghadapi kebencian sebagian warga net. Han Yoo Ra menyarankan agar influencer tidak terpancing emosi dengan komentar negatif dan menghadapi masalah dengan kepala dingin.
Kesimpulannya, pekerjaan influencer yang terlihat menyenangkan tidak hanya membawa suka, tetapi juga menyimpan duka. Influencer juga pernah mengalami stres tersendiri karena pekerjaannya. Namun, dengan kemampuan mengelola perasaan negatif, semua pekerjaan –termasuk influencer– bisa dijalani dengan baik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *